Grab Tak Terusik Ekspansi Go-Jek ke Thailand

Grab Tak Terusik Ekspansi Go-Jek ke Thailand

JAKARTA, KOMPAS.com – Akhir Februari lalu, startup ride-hailing asal Indonesia, Go-Jek resmi melebarkan sayapnya ke Thailand. Negeri Gajah Putih itu menjadi negara ketiga Go-Jek selain operasionalnya di Indonesia. Selain di Thailand, Go-Jek telah melakukan ekspansi ke Singapura dan Vietnam. Namun ekspansi Go-Jek tersebut tak membuat gentar pesaingnya, Grab. “Saya rasa pasar seperti Thailand tidak berdampak secara bisnis terhadap kami,” ujar Anthony Tan, Co-Founder dan CEO Grab ditemui KompasTekno di Jakarta, Rabu (6/3/2019). Ia sesumbar bahwa Grab masih bertengger sebagai perusahaan ride-hailing nomor satu dan terpopuler di Asia Tenggara. Baca juga: Dapat Investasi Rp 63 Triliun, Grab Klaim Jadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara “Anda bisa melihat laporan media internasional lain ketika mereka menanyakan langsung ke pelanggan kami di lapangan, tidak ada orang yang pakai layanan lain. Dari riset pihak ketiga, kami masih menjadi ride hailing dan super apps terpopuler di Asia Tenggara,” imbuhnya. Ekspansi Go-Jek di Asia Tenggara bisa dikatakan masih terlalu dini untuk diukur dampaknya, dan dibandingkan dengan eksistensi Grab yang lebih lama di regional Asia Tenggara. Grab sendiri telah memasuki pasar Thailand, Filipina, dan Indonesia sejak 2013-2014. Ditambah, bisnis Grab melesat tajam setelah mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara, awal tahun lalu. Hal ini diakui oleh Ridzki Kramadibrata, President of Grab Indonesia. “Kepercayaan masyarakat terhadap Grab juga semakin meningkat, dan itu menjadi batu loncatan bagi Grab sebagai super apps,” ujarnya. Secara keseluruhan, Grab mengklaim bahwa pendapatannya tumbuh dua kali lipat dari Maret hingga Desember 2018 sejak mengakuisisi Uber. Pendapatan GrabFood disebut tumbuh 45 kali lipat di periode yang sama. Baca juga: Go-Jek Resmi Meluncur di Thailand dengan Nama Get Pertumbuhan juga terjadi di layanan Grab Financial Group yang nilai transaksinya disebut mencapai lima kali lipat. Pun halnya dengan GrabExpress, di mana volume pengiriman instant daily dan same-day delivery miliknya diklaim naik tiga kali lipat di tingkat regional.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Grab Tak Terusik Ekspansi Go-Jek ke Thailand”, https://tekno.kompas.com/read/2019/03/06/18040087/grab-tak-terusik-ekspansi-go-jek-ke-thailand.
Penulis : Wahyunanda Kusuma Pertiwi
Editor : Reska K. Nistanto

Grab Gelar Layanan Pembayaran Secara Kredit dan Asuransi

Grab Gelar Layanan Pembayaran Secara Kredit dan Asuransi

KOMPAS.com – Dalam rangka mewujudkan ambisinya menjadi penyedia layanan keuangan terbesar di Asia Tenggara, Grab pekan ini mengumumkan sejumlah fitur baru dari unit Grab Financial Group yang akan dimulai di Singapura dalam beberapa minggu kedepan. Salah satu fiturnya adalah fitur checkout yang memungkinkan penjual (merchant) menerima GrabPay sebagai dompet digital di platform mereka. Fitur ini telah dirilis, bekerja sama dengan Q0010 dan 11Street, dua e-commerce terbesar di Singapura dan Malaysia. Nantinya, GrabPay juga akan terintegrasi dengan perangkat penghitungan penjualan (point-of-sales) di beberapa gerai makanan. Tak cuma itu, GrabPay juga menawarkan fitur Pay Later. Kurang lebih, fitur ini mirip dengan layanan kredit. Baca juga: Grab Berambisi Jadi “Super Apps” Terbesar di Asia Tenggara Pengguna bisa mengakumulasi total pengeluaran setelah menggunakan produk-produk Grab, seperti Grab Food, ojek, atau sebagainya. Jumlah totalnya kemudian dibayar setiap akhir bulan tanpa biaya tambahan, mirip-mirip belanja dengan kartu kredit. Fitur kredit ini hanya akan ditawarkan bagi pelanggan yang memenuhi kriteria. Kriteria didasarkan pada seberapa banyak mereka menggunakan Grab, pola pengeluaran, dan seberapa lama pelanggan menghabiskan waktunya di platform tersebut. Nantinya juga akan ada fasilitas cicilan untuk membayaran dan pembelian barang lewat Grab Financial. Jika pelanggan gagal melunasi pembayaran tepat waktu, akan ada pinalti nantinya. Namun, Grab masih enggan menjelaskan lebih detail. Asuransi pengusaha Bulan April mendatang, Grab juga akan meluncurkan asuransi marketplace yang ditujukan bagi para pengusaha mikro. Sebagai permulaan, Grab akan lebih dulu meluncurkan dua produk baru untuk para mitra kemudi yang telah tersedia di aplikasi Grab. Dua produk tersebut adalah asuransi cuti medis berkepanjangan dan top-up cakupan asuransi dasar. “Kami akan melipatgandakan layanan keuangan kami dengan menawarkan ke pengusaha mikro dengan program ‘Grow with Grab’,” jelas Reuben Lai, Senior Managing Grab Financial Group, dihimpun KompasTekno dari Channel News Asia, Rabu (20/3/2019). Baca juga: Dapat Investasi Rp 63 Triliun, Grab Klaim Jadi “Decacorn” Pertama di Asia Tenggara “Ini adalah kesempatan besar yang belum dimanfaatkan untuk Grab Financial untuk mendukung para pengusaha yang masih kesulitan mengakses lembaga keuangan tradisional,” imbuhnya. Ia menambahkan, sektor usaha kecil dan menengah (UKM) berkontribusi lebih dari 50 persen untuk GDP ASEAN. Dua pertiga pelaku UKM mengaku bahwa pembiayaan bisnis adalah masalah terbesar mereka. “Hasil akhirnya, kami bisa memperluas skala dan kumpulan data kami untuk membawa produk-produk jasa keuangan ke pasar dengan harga yang lebih kompetitif dari siapapun,” imbuh Lai.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Grab Gelar Layanan Pembayaran Secara Kredit dan Asuransi”, https://tekno.kompas.com/read/2019/03/20/13270007/grab-gelar-layanan-pembayaran-secara-kredit-dan-asuransi.
Penulis : Wahyunanda Kusuma Pertiwi
Editor : Oik Yusuf

Kategorisasi Saluran Media Sosial

Kategorisasi Saluran Media Sosial

Ketika seseorang melihat berbagai saluran media sosial dan lalu lintas yang mengalir melalui berbagai jaringan, kita akan terkejut dengan jumlah percakapan dan pertukaran informasi yang sedang terjadi.

Sebagai seorang individu adalah wajar bahwa setiap orang dari kita akan masuk ke beberapa jaringan hampir setiap hari dan mengejar kepentingan kita.

Ketika kita ingin mempelajari media sosial dari sudut pandang seorang pemasar yang tertarik untuk menjangkau audiens yang lebih besar yang kebetulan adalah calon pelanggan kita, kita akan menemukan bahwa pendekatan kita untuk memahami media sosial perlu diubah.

Pada dasarnya kita harus mengubah persepsi kita dari persepsi pengguna jaringan sosial atau partisipan menjadi pemasar yang menyerukan untuk melihat media sosial dari sudut yang berbeda sama sekali.

Saluran media sosial dapat dikelompokkan bersama di bawah kategori fungsional yang luas seperti platform, konten, dan jaringan yang mempromosikan interaksi. Dengan mendaftar semua platform di bawah kategori tersebut membantu pemasar untuk memilih campuran salurannya dengan tepat.

Ini membantu seseorang untuk memahami dan mengidentifikasi calon pelanggan dan mendapatkan kejelasan tentang bagaimana cara berhubungan dengan pelanggan secara positif.

Dengan mengidentifikasi media tertentu yang mungkin efektif dalam menjangkau calon pelanggan dan mendorongnya untuk membuat keputusan untuk membeli, kita dapat membangun dan menerapkan pendekatan khusus pelanggan yang spesifik dan berhasil menjangkau target audiens.

Kategori platform sosial termasuk white label jejaring sosial, jejaring sosial pribadi serta Wiki dan lain-lain. Di bawah konten sosial, berbagai blog, blog mikro, berbagi video, foto serta audio dan podcast dan lain-lain tercakup.Platform interaksi sosial meliputi SMS, email, RSS, serta berbagai acara.

Program pemasaran pada tingkat makro berurusan dengan strategi keseluruhan. Rencana media juga memuat kerangka kerja pendekatan yang lebih besar untuk menggunakan berbagai media termasuk media cetak, visual dan tradisional. Media Sosial tidak dapat digunakan secara terpisah dan membentuk subset atau bagian dari keseluruhan campuran media yang digunakan pengiklan untuk mendekati konsumen.

Dari berbagai saluran media sosial, penting untuk mengidentifikasi segmen tertentu dari target audiens, memetakan kehadiran mereka di platform tertentu dan kemudian memilih metode partisipasi yang tepat.

Memetakan siklus umpan balik sosial, memahami bagaimana calon pelanggan membuat keputusannya dengan bantuan orang lain yang berpartisipasi dalam media sosial diperlukan untuk dapat membangun strategi media sosial tertentu. Interaksi sosial membentuk dasar periklanan dan pemasaran.

Publisitas dari mulut ke mulut cenderung memainkan peran penting dalam saluran pemasaran dan penjualan tradisional. Ketika datang ke media sosial, Word of Mouth mengasumsikan proporsi raksasa terutama dalam kasus blogging mikro, SMS dan saluran lainnya.

Memahami bagaimana hal ini dapat membantu atau merusak reputasi pemasar di Media Sosial membantu seseorang merancang strategi pemasaran yang efektif yang dibuat khusus untuk segmen ini.

***
Solo, Kamis, 7 Maret 2019. 9:57
‘salam sukses penuh cinta’
Suko Waspodo

 

https://www.kompasiana.com/sontoloyo10521/5c807eb7677ffb54ff36a038/kategorisasi-saluran-media-sosial

Laksamana Dipani Unus

"Laksamana Dipani Unus"

oleh : Junus Barathan

Malaka adalah pintu gerbang tanah air kita disebelah barat. Pada tahun 1511 Malaka jatuh ketangan Portugis.
Tanah air kita dalam keadaan bahaya. Musuh siap menyerbu.

Demak siap untuk menyerang Portugis. Dipati Unus akan memimpin angkatan perang Demak.
Dipati Unus, adalah putera Sultan Demak. Ia terkenal sebagai seorang pelaut ulung.

Dipati Unus sering memimpin kapal perang Demak. Pertempuran di laut tak asing baginya.
Ia ditunjuk sebagai laksamana Angkatan Laut. Untuk menyerang Portugis.

Dipati Unus,merencanakan serangan mendadak. Dia tidak langsung menuju ke utara
Armada Demak berlayar dari Jepara ke barat.Terus ke barat melalui selat Sunda.

Seratus kapal perang beriringan. Kapal perang Dipati Unus paling depan.
Kapal dengan layar panjang dan lebar terpasang ditengah.Bila angin tak bertiup, kapal itu didayung.
Geladak bawah disitulah para pendayung duduk. Geladak atas terdapat beberapa pucuk Meriam

Selat Sunda dilalui dengan selamat. Armada berlayar keutara, menyusuri pantai Andalas.
Setelah melalui pulau Sabang, masuklah Armada keselat Malaka. Melaju terus keselatan.

Armada Demak melaju cepat menyerang tiba-tiba. Berjajar seperti supit urang.
Sambil menembakan meriam, Armada terus maju.

Portugis tidak tinggal diam. Benteng Portugis membalas dengan tembakan meriam besar.
Banyak kapal perang Demak terbakar dan tenggelam.

Kapal-kapal portugis menerobos iringan Armada Demak, sambil menembakan meriamnya.
Armada Demak menjadi kacau.Terjadilah pertempuran seru di laut.

Angkatan laut Demak menggunakan siasat”Perompak”.
Mendekati kapal Portugis, meloncat ke Geladak. Pertempuran terjadi di atas kapal.

Namun, akhirnya Armada Demak dapat dikalahkan.
Laksamana Dipati Unus, mengumpulkan kapal perang yang tersisa kembali kepangkalan Demak.

Singosari, 7 Maret 2019

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI

Perkembangan teknologimenjadi hal yang sudah tidak asing lagi perkembangan teknologi informasi saat ini memang jauh lebih pesat dari tahun tahun sebelumnya transformasi dari teknologi masalalalu menjadi teknologi yang lebih cangggih mudah dan cepat, artikel yang akan di bahas di bawah ini adalah tentang Perkembangan teknologi infomasi

► Evolusi Perkembangan Teknologi Informasi

    Tidak dapat disangkal bahwa salah satu penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datangnya lebih cepat dari dugaan semua pihak adalah karena perkembangan pesat teknologi informasi. Implementasi internet, electronic commerce, electronic data interchange, virtual office, telemedicine, intranet, dan lain sebagainya telah menerobos batas-batas fisik antar negara. Penggabungan antara teknologi komputer dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi di bidang sistem informasi. Data atau informasi yang pada jaman dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di dunia, saat ini dapat dilakukan dalam hitungan detik. Tidak berlebihan jika salah satu pakar IBM menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai berikut: “seandainya dunia otomotif mengalami kemajuan sepesat teknologi informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan bakar solar, yang dapat dipacu hingga kecepatan maximum 10,000 km/jam, dengan harga beli hanya sekitar 1 dolar Amerika !”. Secara mikro, ada hal cukup menarik untuk dipelajari, yaitu bagaimana evolusi perkembangan teknologi informasi yang ada secara signifikan mempengaruhi persaingan antara perusahaan-perusahaan di dunia, khususnya yang bergerak di bidang jasa.

    Secara garis besar, ada empat periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer hingga saat ini. Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru mengenai manajemen perusahaan modern. Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker, Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era modern.

    Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen, organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-an.

►Perkembangan Teknologi Era Komputerisasi

    Periode ini dimulai sekitar tahun 1960-an ketika mini computer dan mainframe diperkenalkan perusahaan seperti IBM ke dunia industri. Kemampuan menghitung yang sedemikian cepat menyebabkan banyak sekali perusahaan yang memanfaatkannya untuk keperluan pengolahan data (data processing). Pemakaian komputer di masa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibandingkan dengan mempekerjakan berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa.

    Pada era tersebut, belum terlihat suasana kompetisi yang sedemikian ketat. Jumlah perusahaan pun masih relatif sedikit. Kebanyakan dari perusahaan perusahaan besar secara tidak langsung “memonopoli pasar-pasar tertentu, karena belum ada pesaing yang berarti. Hampir semua perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu kegiatan administrasinya sehari-hari.

    Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan. Di pihak lain, kemampuan mainframe untuk melakukan perhitungan rumit juga dimanfaatkan perusahaan untuk membantu menyelesaikan problem-problem teknis operasional, seperti simulasi-simulasi perhitungan pada industri pertambangan dan manufaktur.

► Era Kemajuan Teknologi Informasi

  Kemajuan teknologi digital yang dipadu dengan telekomunikasi telah membawa komputer memasuki masa-masa “revolusi”-nya. Di awal tahun 1970-an, teknologi PC atau Personal Computer mulai diperkenalkan sebagai alternatif pengganti mini computer. Dengan seperangkat komputer yang dapat ditaruh di meja kerja (desktop), seorang manajer atau teknisi dapat memperoleh data atau informasi yang telah diolah oleh komputer (dengan kecepatan yang hampir sama dengan kecepatan mini computer, bahkan mainframe). Kegunaan komputer di perusahaan tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi, namun lebih jauh untuk mendukung terjadinya proses kerja yang lebih efektif. Tidak seperti halnya pada era komputerisasi dimana komputer hanya menjadi “milik pribadi” Divisi EDP (Electronic Data Processing) pada suatu perusahaan, di era kedua ini setiap individu di organisasi dapat memanfaatkan kecanggihan komputer, seperti untuk mengolah database, spreadsheet, maupun data processing (end-user computing). Pemakaian komputer di kalangan perusahaan semakin marak, terutama didukung dengan alam kompetisi yang telah berubah dari monompoli menjadi pasar bebas. Secara tidak langsung, perusahaan yang telah memanfaatkan teknologi komputer sangat efisien dan efektif dibandingkan perusahaan yang sebagian prosesnya masih dikelola secara manual.

    Pada era inilah komputer memasuki babak barunya, yaitu sebagai suatu fasilitas yang dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan, terutama yang bergerak di bidang pelayanan atau jasa. Teori-teori manajemen organisasi modern secara intensif mulai diperkenalkan di awal tahun 1980-an. Salah satu teori yang paling banyak dipelajari dan diterapkan adalah mengenai manajemen perubahan (change management). Hampir di semua kerangka teori manajemen perubahan ditekankan pentingnya teknologi informasi sebagai salah satu komponen utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan yang ingin menang dalam persaingan bisnis. Tidak seperti pada kedua era sebelumnya yang lebih menekankan pada unsur teknologi, pada era manajemen perubahan ini yang lebih ditekankan adalah sistem informasi, dimana komputer dan teknologi informasi merupakan komponen dari sistem tersebut.

    Kunci dari keberhasilan perusahaan di era tahun 1980-an ini adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara cepat dan akurat. Informasi di dalam perusahaan dianalogikan sebagai darah dalam peredaran darah manusia yang harus selalu mengalir dengan teratur, cepat, terus-menerus, ke tempat-tempat yang membutuhkannya (strategis). Ditekankan oleh beberapa ahli manajemen, bahwa perusahaan yang menguasai informasilah yang memiliki keunggulan kompetitif di dalam lingkungan makro “regulated free market”. Di dalam periode ini, perubahan secara filosofis dari perusahaan tradisional ke perusahaan modern terletak pada bagaimana manajemen melihat kunci kinerja perusahaan. Organisasi tradisional melihat struktur perusahaan sebagai kunci utama pengukuran kinerja, sehingga semuanya diukur secara hirarkis berdasarkan divisi-divisi atau departemen.

    Dalam teori organisasi modern, dimana persaingan bebas telah menyebabkan customers harus pandai-pandai memilih produk yang beragam di pasaran, proses penciptaan produk atau pelayanan (pemberian jasa) kepada pelanggan merupakan kunci utama kinerja perusahaan. Keadaan ini sering diasosiasikan dengan istilah-istilah manajemen seperti “market driven” atau “customer base company” yang pada intinya sama, yaitu kinerja perusahaan akan dinilai dari kepuasan para pelanggannya. Sangat jelas dalam format kompetisi yang baru ini, peranan komputer dan teknologi informasi, yang digabungkan dengan komponen lain seperti proses, prosedur, struktur organisasi, SDM, budaya perusahaan, manajemen, dan komponen terkait lainnya, dalam membentuk sistem informasi yang baik, merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan secara strategis. Tidak dapat disangkal lagi bahwa kepuasan pelanggan terletak pada kualitas pelayanan. Pada dasarnya, seorang pelanggan dalam memilih produk atau jasa yang dibutuhkannya, akan mencari perusahaan yang menjual produk atau jasa tersebut: cheaper (lebih murah), better (lebih baik), dan faster (lebih cepat). Disinilah peranan sistem informasi sebagai komponen utama dalam memberikan keunggulan kompetitif perusahaan. Oleh karena itu, kunci dari kinerja perusahaan adalah pada proses yang terjadi baik di dalam perusahaan (back office) maupun yang langsung bersinggungan dengan pelanggan (front office). Dengan memfokuskan diri pada penciptaan proses (business process) yang efisien, efektif, dan terkontrol dengan baiklah sebuah perusahaan akan memiliki kinerja yang handal.

    Tidak heran bahwa di era tahun 1980-an sampai dengan awal tahun 1990-an terlihat banyak sekali perusahaan yang melakukan BPR (BusinessProcess Reengineering), re-strukturisasi, implementasi ISO-9000, implementasi TQM, instalasi dan pemakaian sistem informasi korporat (SAP, Oracle, BAAN), dan lain sebagainya. Utilisasi teknologi informasi terlihat sangat mendominasi dalam setiap program manajemen perubahan yang dilakukan perusahaan-perusahaan

► Perkembangan Teknologi Era Globalisasi Informasi

    Belum banyak buku yang secara eksplisit memasukkan era terakhir ini ke dalam sejarah evolusi teknologi informasi. Fenomena yang terlihat adalah bahwa sejak pertengahan tahun 1980-an, perkembangan dibidang teknologi informasi (komputer dan telekomunikasi) sedemikian pesatnya, sehingga kalau digambarkan secara grafis, kemajuan yang terjadi terlihat secara eksponensial.

    Ketika sebuah seminar internasional mengenai internet diselenggarakan di San Fransisco pada tahun 1996, para praktisi teknologi informasi yang dahulu bekerja sama dalam penelitian untuk memperkenalkan internet ke dunia industri pun secara jujur mengaku bahwa mereka tidak pernah menduga perkembangan internet akan menjadi seperti ini. Ibaratnya mereka melihat bahwa yang ditanam adalah benih pohon ajaib, yang tiba-tiba membelah diri menjadi pohon raksasa yang tinggi menjulang. Sulit untuk ditemukan teori yang dapat menjelaskan semua fenomena yang terjadi sejak awal tahun 1990-an ini, namun fakta yang terjadi dapat disimpulkan sebagai berikut:

    Tidak ada yang dapat menahan lajunya perkembangan teknologi informasi. Keberadaannya telah menghilangkan garis-garis batas antar negara dalam hal flow of  information. Tidak ada negara yang mampu untuk mencegah mengalirnya informasi dari atau ke luar negara lain, karena batasan antara negara tidak dikenal dalam virtual world of computer.Penerapan teknologi seperti LAN, WAN, GlobalNet, Intranet, Internet, Ekstranet, semakin hari semakin merata dan membudaya di masyarakat. Terbukti sangat sulit untuk menentukan perangkat hukum yang sesuai dan terbukti efektif untuk menangkal segala hal yang berhubungan dengan penciptaan dan aliran informasi. Perusahaan-perusahaan pun sudah tidak terikat pada batasan fisik lagi. Melalui virtual world of computer, seseorang dapat mencari pelanggan di seluruh lapisan masyarakat dunia yang terhubung dengan jaringan internet. Sulit untuk dihitung besarnya uang atau investasi yang mengalir bebas melalui jaringan internet. Transaksi-transaksi perdagangan dapat dengan mudah dilakukan di cyberspace melalui electronic transaction dengan mempergunakan electronic money.

    Tidak jarang perusahaan yang akhirnya harus mendefinisikan kembali visi dan misi bisnisnya, terutama yang bergelut di bidang pemberian jasa. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perangkat canggih teknologi informasi telah merubah mindset manajemen perusahaan sehingga tidak jarang terjadi perusahaan yang banting stir menggeluti bidang lain. Bagi negara dunia ketiga atau yang sedang berkembang, dilema mengenai pemanfaatan teknologi informasi amat terasa. Di suatu sisi banyak perusahaan yang belum siap karena struktur budaya atau SDM-nya, sementara di pihak lain investasi besar harus dikeluarkan untuk membeli perangkat teknologi informasi.Tidak memiliki teknologi informasi, berarti tidak dapat bersaing dengan perusahaan multi nasional lainnya, alias harus gulung tikar. Hal terakhir yang paling memusingkan kepala manajemen adalah kenyataan bahwa lingkungan bisnis yang ada pada saat ini sedemikian seringnya berubah dan dinamis. Perubahan yang terjadi tidak hanya sebagai dampak kompetisi yang sedemikian ketat, namun karena adanya faktor-faktor external lain seperti politik (demokrasi), ekonomi (krisis), sosial budaya (reformasi), yang secara tidak langsung menghasilkan kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan baru yang harus ditaati perusahaan.

    Secara operasional, tentu saja fenomena ini sangat menyulitkan para praktisi teknologi informasi dalam menyusun sistemnya. Tidak jarang di tengah-tengah konstruksi sistem informasi, terjadi perubahan kebutuhan sehingga harus diadakan analisa ulang terhadap sistem yang akan dibangun. Dengan mencermati keadaan ini, jelas terlihat kebutuhan baru akan teknologi informasi yang cocok untuk perusahaan, yaitu teknologi yang mampu adaptif terhadap perubahan. Para praktisi negara maju menjawab tantangan ini dengan menghasilkan produk-produk aplikasi yang berbasis objek, seperti OOP (Object Oriented Programming), OODBMS (Object Oriented Database Management System), Object Technology, Distributed Object, dan lain sebagainya.

► Akibat Kemajuan Teknologi “Perubahan Pola Pikir Sebagai Syarat”

    Dari keempat era di atas, terlihat bagaimana alam kompetisi dan kemajuan teknologi informasi sejak dipergunakannya komputer dalam industri hingga saat ini terkait erat satu dan lainnya. Memasuki abad informasi berarti memasuki dunia dengan teknologi baru, teknologi informasi. Mempergunakan teknologi informasi seoptimum mungkin berarti harus merubah mindset. Merubah mindset merupakan hal yang teramat sulit untuk dilakukan, karena pada dasarnya “people do not like to change”. Kalau pada saat ini dunia maju dan negara-negara tetangga Indonesia sudah memiliki komitmen khusus untuk mengambil bagian dalam penciptaan komponen-komponen sistem informasi, bagaimana dengan Indonesia?

Masih ingin menjadi negara konsumen? Atau sudah mampu menjadi negara produsen?

Paling tidak, hal yang harus ada terlebih dahulu di setiap manusia Indonesia adalah kemauan untuk berubah. Tanpa “willingness to change”, sangat mustahillah bangsa Indonesia dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk membangun kembali bangsa yang hancur ditelan krisis saat ini.

 

SUMBER: http://ray-vino-alone.blogspot.co.id/2011/07/perkembangan-teknologi-informasi.html